“Obsesi Cinta”

“Obsesi Cinta”

Karya : Yosefi Ayurika Lestary

Kelas : XI C – SMA Negeri 1 Pacar


Cerpen:

Syifa baru saja pindah ke SMA Negeri 1 Pacar, sebuah sekolah kecil di Kecamatan Pacar yang dekat dengan rumah neneknya. Sebagai anak pengusaha kaya dari Labuan Bajo, ia merasa asing di lingkungan baru ini setelah meninggalkan SMA Negeri 10 Surabaya. Hari pertama, saat istirahat, matanya tertarik pada seorang pemuda tampan di kelas sebelah. "Siapa dia?" gumam Syifa dalam hati, jantungnya berdegup kencang. Itu adalah Brayn, siswa prestasi yang selalu juara umum, dikenal pintar dan pendiam.

Di koridor sekolah, Syifa memberanikan diri mendekati Brayn yang sedang membaca buku. "Hai, aku Syifa, murid pindahan. Kamu Brayn, kan? Aku dengar kamu juara umum terus," katanya sambil tersenyum malu-malu. Brayn menoleh, tersenyum tipis. "Ya, benar. Selamat datang di sini, Syifa. Kalau butuh bantuan pelajaran, bilang saja." Percakapan singkat itu membuat Syifa jatuh cinta pada pandangan pertama, obsesinya mulai tumbuh seperti api yang menyala.

Seiring hari berganti, Syifa semakin sering mengikuti Brayn diam-diam. Ia mencatat jadwalnya, bahkan mengirim pesan anonim lewat media sosial. "Aku suka kamu, Brayn. Kamu sempurna," tulisnya suatu malam. Brayn merasa aneh, tapi mengabaikannya dulu. Namun, obsesi Syifa makin dalam; ia mulai melewatkan pelajaran hanya untuk melihat Brayn dari kejauhan, membuat nilainya menurun.

Suatu hari di kantin, Syifa mendekat lagi. "Brayn, mau makan bareng? Aku bawa bekal spesial buat kamu," katanya dengan mata berbinar. Brayn menggeleng. "Syifa, aku hargai perhatianmu, tapi aku fokus belajar dulu. Tolong jangan terlalu sering begini." Syifa tersinggung, tapi obsesinya malah makin kuat, membuatnya marah pada siapa saja yang dekat dengan Brayn.

Obsesi itu memuncak saat Syifa melihat Brayn berbicara akrab dengan gadis lain di kelas. Dia milikku! Kenapa dia ngobrol sama yang lain?," batin Syifa, tangannya gemetar. Malam itu, ia menelepon Brayn berulang kali. "Brayn, jawab dong! Kamu harus pilih aku!" teriaknya di telepon. Brayn kaget, "Syifa, ini sudah keterlaluan. Kamu harus berhenti, ini bukan cinta, ini obsesi!"

Syifa menghadang Brayn di depan banyak siswa. "Brayn, aku cinta kamu! Kenapa kamu tolak aku? Aku pindah ke sini karena kamu!" jeritnya sambil menangis. Brayn tegas, "Syifa, ini bukan cara mencinta. Kamu harus sadar, ini menyakiti dirimu sendiri!" Teman-teman mulai bergunjing, membuat Syifa merasa hancur.

Ketika nenek Syifa mendengar kabar dari sekolah tentang hubungannya dengan Brayn lalu nenek memanggilnya pulang. "Nak, kamu harus tahu cinta itu bukan paksaan. Kamu harus belajar mengendalikan diri," nasihat nenek dengan lembut. Syifa menangis di pelukan nenek, mulai menyadari kesalahannya. Ia menghapus semua pesan dan berhenti mengikuti Brayn.

Syifa meminta maaf pada Brayn di kelas. "Maafkan aku, Brayn. Aku salah besar. Aku janji nggak akan ganggu lagi," katanya dengan suara pelan. Brayn mengangguk, "Aku maafkan. Fokuslah pada dirimu sendiri, Syifa. Kamu bisa lebih baik," Syifa merasa lega, meski hatinya masih sakit.

Ia bergabung dengan klub belajar, meningkatkan prestasinya seperti Brayn. "Terima kasih atas pelajaran ini," gumam Syifa suatu hari, melihat Brayn dari jauh tanpa obsesi lagi. Cinta pertamanya berubah menjadi motivasi untuk menjadi lebih baik.

Akhirnya, Syifa lulus dengan nilai bagus, meninggalkan sekolah dengan hati yang lebih dewasa. "Obsesi itu bukan cinta sejati," bisiknya pada diri sendiri, siap menghadapi masa depan tanpa bayang-bayang masa lalu. *HD/red