Oleh: Prisila Suriani
Kelas: XI IPA – Siswi SMA Negeri 1 Pacar
Santy adalah gambaran kecantikan yang lembut—kulitnya putih seolah pualam, tubuhnya langsing bagai ranting yang lentur, dan matanya selalu memancarkan kerinduan. Kerinduan itu bernama Randi. Lima tahun. Itu adalah durasi penantian Santy yang dipintal dengan ribuan pesan, panggilan larut malam, dan janji-janji manis yang dibisikkan Randi di sela-sela waktu cutinya. Randi, pemuda gagah dan menawan, adalah seorang pemandu wisata profesional (Tour Guide) yang cintanya terpaut pada birunya laut dan eksotisnya Pulau Komodo. Pekerjaannya menuntutnya jauh, sering kali tanpa sinyal, di antara kapal phinisi dan cengkeraman naga purba.
Bagi Santy, Randi adalah jangkar sekaligus badai. Ia adalah alasan hatinya berdebar, tetapi juga sumber kecemasan yang tak pernah padam. Mereka berdua telah merencanakan masa depan yang detail: sebuah rumah kecil di pinggiran kota, dua anak, dan Randi berjanji akan mengurangi jadwalnya di laut setelah mereka menikah.
“Tunggu aku, Sayang,” kata Randi suatu malam di telepon, suaranya berderak di antara ombak. “Ini hanya sebentar lagi. Aku sedang mengumpulkan yang terbaik untuk kita.”
Santy memegang ponselnya erat, memejamkan mata, dan mengangguk ke udara kosong. “Aku akan selalu di sini, Randi. Hati-hati.”
Bulan-bulan berubah menjadi tahun, dan penantian itu mulai terasa seperti beban fisik. Santy menjalani hari-hari dengan rutinitas yang kosong, hanya diisi oleh bayangan Randi yang berdiri gagah memimpin turis. Trauma penantian itu perlahan menggerogotinya—ia takut pada ponsel yang diam, takut pada pesan yang tak terkirim, dan yang paling parah, takut pada waktu yang terus berjalan.
Santy merasa ada yang janggal. Komunikasi Randi semakin jarang, alasannya selalu sama: sinyal buruk, jadwal padat, atau sedang berada di laut lepas. Namun, intuisi seorang wanita yang mencintai selama lima tahun tak bisa dibohongi. Santy memutuskan untuk bertindak. Ia mengambil cuti, memesan tiket pesawat, dan terbang ke Labuan Bajo, gerbang menuju Komodo. Ia ingin memberi kejutan—sebuah kejutan yang ternyata adalah miliknya sendiri.
Ia berhasil menemukan agen wisata tempat Randi bekerja. Jantungnya berdebar kencang, perpaduan antara kegembiraan dan kecemasan.
“Mbak mencari Mas Randi?” tanya seorang resepsionis dengan senyum ramah.
“Ya! Apa dia sedang ada di kota? Saya tunangannya,” jawab Santy, memaksa suaranya terdengar ceria.
Senyum resepsionis itu memudar sedikit, digantikan oleh tatapan kasihan yang membuat Santy seketika beku.
“Maaf, Mbak. Mas Randi sedang cuti panjang. Dia baru saja menikah minggu lalu.”
Dunia Santy seolah membeku. Laut yang dicintai Randi kini berubah menjadi tsunami di dadanya.
Santy memaksakan diri untuk bertanya, suaranya bergetar. “M-menikah? Dengan siapa?”
Resepsionis itu menyebut sebuah nama yang terasa asing dan tajam di telinga Santy. Resa.
Tak butuh waktu lama bagi Santy untuk menemukan jejaknya. Di media sosial, di album-album foto yang baru diunggah, Randi berdiri di samping seorang wanita lain. Resa.
Resa tidak seperti Santy. Ia tidak berkulit putih pualam, tetapi berkulit sawo matang yang eksotis, cocok dengan warna laut dan matahari timur. Ia tidak langsing ringkih, melainkan berisi dan ceria, dengan tawa yang bebas. Resa adalah seorang pengelola homestay di Labuan Bajo. Ia tidak menunggu Randi di kejauhan; ia selalu ada di sana, di pelabuhan Randi berlabuh.
Foto-foto itu menusuk Santy lebih dalam daripada pisau. Randi tersenyum, senyum yang sama yang pernah ia janjikan hanya untuk Santy, tetapi kini diarahkan pada Resa. Mereka berdua mengenakan pakaian pernikahan suci, bersanding di depan altar, seolah lima tahun penantian Santy adalah selembar kertas yang ditiup angin. Santy kembali ke kotanya, tetapi ia membawa pulang labuan Bajo di dalam jiwanya. Trauma itu tidak hanya datang dari pengkhianatan Randi, tetapi dari fakta bahwa penantiannya selama lima tahun adalah sebuah kebohongan kolektif. Lima tahun di mana ia menunda hidup, menolak peluang lain, dan mengunci hatinya.
Kini, setiap kali ia melihat peta Indonesia Timur, perutnya mual. Setiap kali ia mendengar lagu tentang laut atau traveling, ia merasakan sesak napas. Putih pualam kulitnya kini terasa pucat dan rapuh, berbeda dengan warna eksotis Resa yang tampak kuat dan layak untuk mendampingi seorang pemandu wisata. Ia mulai membenci cermin, membenci kelangsingannya, karena ia merasa bahwa ia tidak cukup kuat, tidak cukup ada untuk Randi.
Santy kini adalah bayangan dirinya yang dulu. Ia akan tiba-tiba menangis saat melihat pasangan yang bergandengan tangan, atau saat mendengar dering ponsel di malam hari. Randi telah memberikan luka terburuk: bukan perpisahan, melainkan realisasi pahit bahwa cinta dan kesetiaan tidak selalu sepadan dengan waktu dan pengorbanan.
Santy tahu ia harus melanjutkan hidup, tetapi untuk setiap langkah maju, suara ombak dan wajah gagah Randi yang tersenyum bersama Resa selalu menariknya mundur, kembali ke pelabuhan penantian yang kini karam.
_Sekian

Rolax Fellan
November 25, 2021 at 09:00 amIt is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using.
ReplyDaile Cane
November 25, 2021 at 09:00 amIt is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using.
Reply