Sebanyak 216 Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Pacar T.P 2024/2025, Ikut Ujian Semester VI Berbasis Android dan CBT.

Sebanyak 216 Siswa Kelas XII SMA Negeri 1 Pacar T.P 2024/2025, Ikut Ujian Semester VI Berbasis Android dan CBT.

Manggarai Barat. Prov. Nusa Tenggara Timur - SMA Negeri 1 Pacar gelar Ujian Semester VI berbasis Android / Computer Based Test (CBT). Sistem ini bertujuan untuk mempermudah proses ujian, meningkatkan efisiensi, serta mengurangi kemungkinan terjadinya kecurangan selama ujian. Ujian ini sudah diterapkan sejak lama di lembaga SMA Negeri 1 Pacar dalam pelaksanaan pelbagai ujian dari tahun ke tahun. Pelaksanaan ujian belangsung selama satu minggu di ruang kelas SMA Negeri 1 Pacar . Ujian semester VI tersebut dimulai pada, Jumat (14/3/25) hingga Kamis, (20/3/25). 

Menurut Proktor Ujian, Georgius Suryanto, S.Pd.,Gr, menyampaikan bahwa penggunaan CBT pada ujian semester kali ini sangat membantu dalam meminimalisir kesalahan teknis yang mungkin terjadi pada ujian manual. Ujian Semester VI untuk tingkat SMA kali ini dilaksanakan dengan menggunakan sistem Computer Based Test (CBT) yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan akurasi dalam proses ujian. Sistem ini memberikan kemudahan bagi peserta ujian untuk menjawab soal secara digital, serta memungkinkan hasil ujian keluar lebih cepat dibandingkan dengan ujian konvensional berbasis kertas. Berdasarkan regulasi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ujian berbasis CBT ini akan mencakup berbagai mata pelajaran penting yang diujikan pada semester VI tingkat SMA. Diantaranya adalah Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta mata pelajaran lain yang sesuai dengan jurusan masing-masing siswa. Tentunya peserta didik dalam pelaksanaan ujian berbasis CBT sudah dibuat simulasi secara serius oleh proktor dan teknisi komputer SMA Negeri 1 Pacar untuk mempersiapkan diri peserta didik dengan baik dan menggunakan waktu seefisien mungkin selama ujian.

Lebih lanjut, Georgius Suryanto menjelaskan bahwa, proses ujian ini diselenggarakan dengan pengawasan yang ketat oleh proktor dan pengawas ujian untuk memastikan kelancaran dan keamanan ujian semester VI tahun pelajaran 2024/2025. Ujian pada bulan maret ini sekaligus penutup evaluasi kurikulum 2013. Jumlah peserta didik yang ikut ujian berjumlah 216 orang yang masih status aktif dalam dapodik. Jumlah peserta tersebut dibagi tiga program jurusan di SMA Negeri 1 Pacar yakni; program IPS, Bahasa, dan IPA. Pelaksanaan ujian dibuat dua sesi. Sesi pertama, dimulai pukul 07.30- s.d. pukul 09.00, kemudian dilanjutkan sesi kedua, pukul 09.30 s.d. pukul 11.30 Wita. Sistem CBT ujian dilaksanakan secara online, di mana siswa akan mengerjakan soal ujian melalui perangkat android yang telah dimiliki oleh peserta didik dan komputer yang sudah disediakan oleh sekolah. Adanya pemanfaatan teknologi ini peran para guru dalam mengevaluasi hasil belajar selama semester VI, menjadi lebih cepat dan akurat, karena hasil ujian akan langsung terhitung begitu siswa menyelesaikan soal-soal yang ada.

"Dengan menggunakan CBT, soal ujian langsung terintegrasi dengan sistem komputer, yang mengurangi risiko kesalahan penilaian, serta mempermudah pengelolaan soal dan hasil ujian. Salah satu keunggulan dari CBT adalah kemudahan dalam pengawasan dan monitoring peserta ujian secara real-time. Proktor dapat langsung memantau kehadiran peserta, waktu pengerjaan soal, serta jika ada peserta yang mengalami kendala teknis, kami dapat segera membantu," tegas ketua pelaksana ujian tersebut. 

Senada dengan itu, pengawas ujian semester VI, Anis G.D. Edon, memberikan pandangan positif mengenai pelaksanaan ujian berbasis CBT ini. Menurutnya, sistem ini mempermudah proses pengawasan selama ujian berlangsung. Namun, tantangan yang sering dihadapi selama ujian berbasis Android dan CBT adalah kestabilan jaringan internet. Ketua pelaksana ujian menyebutkan bahwa meskipun sebagian besar sekolah telah dilengkapi dengan fasilitas internet yang memadai, kadang-kadang ada beberapa gangguan teknis yang dapat mempengaruhi kelancaran ujian. Untuk mengantisipasi hal ini, pihak sekolah bekerja sama dengan penyedia layanan internet untuk memastikan jaringan berjalan lancar selama ujian berlangsung.

Selain itu, dalam pelaksanaannya, peserta ujian SMA juga diberikan panduan dan sosialisasi mengenai penggunaan sistem Android dan CBT sebelum ujian dimulai. Proktor memberikan latihan simulasi kepada siswa beberapa hari sebelum ujian agar mereka familiar dengan sistem yang digunakan. Hal ini bertujuan agar siswa dapat lebih fokus dalam mengerjakan soal ujian tanpa khawatir tentang aspek teknis.

"Salah satu keunggulan dari CBT adalah kemudahan dalam pengawasan dan monitoring peserta ujian secara real-time. Proktor dapat langsung memantau kehadiran peserta, waktu pengerjaan soal, serta jika ada peserta yang mengalami kendala teknis, kami dapat segera membantu," ungkap pengawas ruang tersebut.

Sementara itu, menurut Florensia A. Ragu, merasa antusias ujian berbasis Android dan CBT (Computer Based Test) yang diselenggarakan oleh sekolah ini, termasuk ditingkat SMA Negeri 1 Pacar. Ujian ini memanfaatkan teknologi untuk menguji kemampuan siswa dalam berbagai mata pelajaran. Siswa hanya perlu duduk memegang Android dan duduk di depan komputer dan menjawab soal-soal yang sudah tersedia dalam format digital. Sistem CBT ini dinilai lebih efisien karena dapat mengurangi penggunaan kertas dan memudahkan proses penilaian.

Lebih lanjut, Rensi mengakui bahwa peserta didik kelas XII, ujian berbasis CBT menawarkan banyak kemudahan, tetapi juga memiliki tantangan tersendiri. Dengan persiapan yang matang, baik dari segi teknis maupun mental, peserta didik diharapkan dapat mengikuti ujian ini dengan lancar dan memperoleh hasil yang memuaskan. Adopsi ujian berbasis CBT ini juga dapat mempersiapkan siswa untuk lebih terbiasa dengan teknologi dalam menghadapi tantangan di dunia yang semakin digital

“Sistem ini memungkinkan soal diacak, sehingga mengurangi kemungkinan kecurangan. Siswa pun dapat mengerjakan ujian dengan waktu yang lebih terstruktur, dan hasilnya pun bisa langsung diketahui setelah ujian selesai.Namun, di balik kemudahan tersebut, beberapa siswa merasa kesulitan dengan ujian berbasis komputer. Beberapa dari mereka belum terbiasa dengan penggunaan komputer untuk ujian, terutama jika perangkat yang digunakan tidak mendukung atau jaringan internet bermasalah. Hal ini bisa mengganggu konsentrasi dan mempengaruhi hasil ujian. Oleh karena itu, sekolah perlu memastikan infrastruktur yang baik dan pelatihan yang cukup bagi siswa,” ujar peserta program bahasa itu.