Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Fisika

Penerapan Model Problem Based Learning (PBL) Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Fisika

PENERAPAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL)UNTUK MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR FISIKA


Oleh : Gaudensia Oktavia, S. Pd.

Guru Mata Pelajaran Fisika SMA Negeri 1 Pacar

Fisika merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Didalamnya mempelajari tentang kejadian ilmiah. Fisika juga mempelajari tentang sifat dan fenomena alam atau gejala-gejala alam serta seluruh interaksi yang ada didalamnya. 

Pembelajaran fisika pada hakikatnya terdiri dari tiga komponen yaitu fisika sebagai proses, sebagai produk, dan sebagai sikap. Fisika sebagai proses merupakan suatu rangkaian kegiatan interaksi antar manusia dengan alam. Melalui penyelidikan akan menghasilkan suatu pengetahuan. Fisika sebagai produk merupakan sekumpulan pengetahuan berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, rumus, teori, dan model. Sedangkan fisika sebagai sikap, diharapkan dengan mempelajari fisika siswa mampu mengembangkan sikap-sikap ilmiah seperti jujur, rasa ingin tahu, bertanggung jawab, disiplin, dan sebagainya.

Fakta dalam kelas, pembelajaran fisika sebagai pembelajaran yang sangat sulit oleh siswa. Siswa melihat fisika merupakan sekumpulan rumus-rumus dan teori yang sukar mereka pahami. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami rumus, mengingat lambang dan satuan dari rumus tersebut. Sehingga Pembelajaran fisika cendrung pasif karena pembelajaran berpusat pada guru. Dari sini guru menilai bahwa siswa kurang termotivasi dalam mempelajari fisika.

Dari permasalahan di atas, guru menyadari kalau model pembelajaran yang diterapkan belum maksimal. Guru mencoba menerapkan model pembelajaran yang berpusat pada siswa, menggugah motivasi siswa dan meningkatkan rasa ingin tahu siswa dengan menerapkan model pembelajaran berbasis masalah atau PBL (Problem Based Learning).

Apa itu model Problem Based Learning (PBL) 

Problem Based Learning (PBL) adalah suatu model pembelajaran yang mana siswa sejak awal dihadapkan suatu masalah kemudian diikuti oleh proses pencarian informasi yang bersifat student centered.

Pembelajaran dengan PBL memberikan kesempatan kepada siswa mempelajari materi akademis dan keterampilan mengatasi masalah dengan terlibat diberbagai situasi kehidupan nyata. Ini memberikan makna bahwa sebagian besar konsep atau generalisasi dapat diperkenalkan dengan efektif melalui pemberian masalah. Program khusus dalam pembelajaran seperti itu memiliki karakteristik-karakteristik tertentu yang membedakan dengan pendekatan-pendekatan pembelajaran lainnya (Arends, 1997:42). 

Uden & Beaumont (2006:57) menyatakan beberapa keuntungan yang dapat diamati dari siswa yang belajar dengan menggunakan pendekatan PBL, yaitu:

Mampu mengingat dengan lebih baik informasi dan pengetahuannya, mengembangkan kemampuan pemecahan masalah, berpikir kritis, dan keterampilan komunikasi, mengembangkan basis pengetahuan secara integrasi, menikmati belajar, meningkatkan motivasi, bagus dalam kerja kelompok, mengembangkan belajar strategi belajar.

Langkah-langkah Problem Based Learning (PBL)

Dimana langkah-langkah Problem Based Learning (PBL) dilakukan oleh guru saat pembelajaran fisika sebagai berikut: tahap pertama meningkatkan keingintahuan siswa dengan memberikan orientasi permasalahan. Sebelum masuk pada orientasi masalah siswa dibentuk dalam kelompok. Kemudian, guru mengajukan sebuah cerita untuk memunculkan permasalahan. Permasalahan yang diberikan bersifat nyata dan dekat dengan kehidupan siswa. Misalnya pada materi “Elastisitas”. Guru menyampaikan permasalahan “Sebuah ketapel yang terbuat dari kain sebagai alas untuk menempatkan batu atau kerikil untuk dilontarkan”. Dari permasalahan tersebut guru menyusun beberapa pertanyaan yang berhubungan permasalahan tersebut. Pada tahap kedua, mengorganisasi siswa untuk belajar. Pada tahap ini, guru membantu siswa untuk memahami permasalahan yang diberikan dan menuntun siswa untuk menjawab pertanyaan berdasarkan permasalahan. Misalnya “apa masalah apa yang terjadi saat ketapel digunakan”. Pada tahap ke tiga, guru membimbing siswa mengumpulkan informasi dengan melakukan eksperimen atau praktikum untuk mendapat penjelasan dan pemecahan masalah. Pada tahap ini, guru membagikan lembar kerja peserta didik (LKPD) terlebih dahulu pada setiap kelompok untuk memudah siswa melakukan pemecahan masalah. Kemudian, guru membimbing siswa melakukan praktikum “sebuah pegas yang dikaitkan pada sebuah statif, pegas tersebut di beri beban”. Langkah-langkah percobaan tertera dalam LKPD. Pada tahap ke empat, mengembangkan dan menyajikan hasil karya. Pada tahap ini, guru membimbing siswa menuliskan hasil praktikum dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada pada LKPD. Kemudian menyusun laporan hasil praktikum. Pada tahap ke lima, menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah. Pada tahap ini, guru meminta siswa melakukan presentasi laporan hasil praktikum. Kemudian guru melakukan evaluasi dengan menjelaskan pemaparan materi terkait pemecahan masalah untuk memperkuat pemahaman siswa.

Oleh karena itu, penerapan model PBL, pembelajaran fisika di dalam kelas menjadi lebih aktif dan hidup. Pembelajaran menjadi berpusat pada siswa dan guru hanya sebagai fasilitator yang mendampingi siswa saat proses pembelajaran. Siswa merasa tertarik untuk belajar karena model pembelajaran yang digunakan tidak monoton, siswa memiliki hasrat memecahkan masalah dengan melakukan praktikum. Siswa terlihat semangat dan antusias saat melakukan pemecahan masalah karena masalah yang diberikan dekat dengan siswa. Siswa merasa di hargai karena laporan hasil praktikum mereka dinilai oleh guru.

Berdasarkan respon siswa diatas, penerapan model PBL mampu meningkatkan motivasi belajar siswa sesuai dengan indikator motivasi belajar yang berbeda menurut Hamzah B. Uno (2010: 23) dapat diklasifikasikan sebagai berikut: adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil, adanya dan dorongan dan kebutuhan dalam belajar, adanya harapan atau cita-cita masa depan, adanya penghargaan dalam belajar, adanya kegitan yang menarik dalam belajar, dan adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seorang siswa dapat belajar dengan baik.