MENGATASI KEJENUHAN BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF KEPALA BERNOMOR STRUKTUR (KBS)

MENGATASI KEJENUHAN BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF KEPALA BERNOMOR STRUKTUR (KBS)

MENGATASI KEJENUHAN BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF

KEPALA BERNOMOR STRUKTUR (KBS)


Oleh : Maria Imakulata Anung, S.Pd

Guru Mata Pelajaran Matematika  SMA Negeri 1 Pacar


Matematika merupakan salah satu pelajaran yang diberikan sejak dari tingkat Sekolah Dasar (SD) sampai Perguruan Tinggi (PT). Pada umumnya matematika dirasakan lebih sulit untuk dipahami daripada ilmu – ilmu  lainnya. Salah satu kendala utama adalah kurang antusiasnya siswa dalam belajar bahkan siswa sampai merasa jenuh atau bosan untuk belajar matematika. Mengajarkan matematika merupakan suatu kegiatan pengajaran sedemikian sehingga siswa belajar untuk mendapatkan kemampuan dan ketrampilan tentang matematika. Kemampuan dan ketrampilan tersebut ditandai dengan adanya interaksi yang positif antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa, yang sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditetapkan (Hudya, 1988:122). 

Hal ini menurut Fabella (dalam Kristanto, 2016: 32) merupakan tanda-tanda bahwa siswa mengalami kejenuhan. Kejenuhan siswa yang disebabkan oleh suatu pembelajaran dapat disebut dengan kejenuhan belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat Kristanto (2016: 32), bahwa kejenuhan siswa dalam proses pembelajaran adalah suatu kondisi mental yang dialami seorang siswa sehingga muncul kebosanan untuk melakukan aktivitas belajar Matematika dan kebosanan tersebut akan membuat hasil nilai belajar siswa menurun. 

Untuk mengatasi kejenuhan belajar matematika di SMA Negeri 1 Pacar, saat ini berkembang barbagai model pembelajaran. Model pembelajaran merupakan strategi yang digunakan guru untuk mengatasi kejenuhan belajar, sikap belajar dikalangan siswa, mampu berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial, dan pencapaian hasil pembelajaran yang lebih optimal.  Salah satu metode yang berkembang saat ini adalah pembelajaran kooperatif (cooperative learning). Model Pembelajaran ini menggunakan kelompok-kelompok kecil sehingga siswa-siswi  saling bekerja sama untuk mencapai tujuan pembelajaran. Siswa dalam kelompok kooperatif belajar berdiskusi, saling membantu, dan mengajak satu sama lain untuk  mengatasi kejenuhan belajar khususnya dalam belajar matematika. Pembelajaran kooperatif mengkondisikan siswa untuk aktif dan saling memberi dukungan dalam kerja kelompok untuk menuntaskan materi dan siswa diberi kesempatan  untuk berkomunikasi dan berinteraksi sosial dengan temannya. Sementara guru bertindak sebagai fasilitator, motivator, mediator, dan  evaluator. Artinya dalam pembelajaran ini kegiatan aktif dengan pengetahuan dibangun sendiri oleh siswa dan mereka bertanggung jawab atas hasil pembelajarannya.

Untuk itu perlu ada model pembelajaran. Ada berbagai tipe dalam pembelajaran kooperatif  yang semuanya lebih menekankan  pada keaktifan siswa dan memiliki berbagai macam kelebihan. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dimaksud adalah model pembelajaran kooperatif  tipe KBS (Kepala Bernomor Struktur).  Model ini modifikasi dari NHT yang dipakai Spancer Kagan. Sehingga dengan adanya model  pembelajaran ini  dapat mengatasi kejenuhan belajar  siswa  untuk mengkaji dan menguasai  materi pelajaran matematika sehingga nantinya akan  meningkatkan prestasi belajar matematika siswa. Dari pemaparan mengenai model pembelajaran kooperatif tipe KBS tersebut, bahwa model pembelajaran KBS mendorong siswa untuk belajar lebih aktif dan lebih bermakna. Artinya siswa dituntut selalu berpikir tentang suatu persoalan dan mereka mencari sendiri cara  penyelesaianya . 

Kejenuhan Belajar Matematika

Kejenuhan adalah keadaan yang membuat jenuh. Jenuh juga berarti jemu dan bosan di mana sistem akal tidak dapat bekerja sesuai dengan yang diharapkan dalam memproses item-item informasi atau pengalaman baru (Syah, 2003: 165). Berdasarkan pendapat tersebut, jika siswa jenuh pada saat proses pembelajaran, maka pembelajaran tersebut menimbulkan kejenuhan. Sehingga kejenuhan yang timbul dari suatu proses pembelajaran dapat disebut dengan kejenuhan belajar. Selain itu, menurut Kristanto (2016: 32) kejenuhan siswa dalam proses pembelajaran adalah suatu kondisi mental yang dialami seorang siswa sehingga muncul kebosanan untuk melakukan aktivitas belajar Matematika dan kebosanan tersebut akan membuat motivasi belajar siswa menurun.

Kejenuhan belajar timbul diakibatkan oleh beberapa faktor. Menurut Hakim (dalam Kristanto, 2016: 32) sebagai berikut : Pertama : cara atau metode belajar yang tidak bervariasi ;  kedua : belajar hanya di tempat tertentu yang sama ; ketiga :  suasana belajar yang tidak berubah-ubah ; keempat : kurang aktivitas rekreasi atau hiburan ; kelima : adanya ketegangan mental kuat dan berlarut-larut pada saat belajar Matematika.

Pengertian  Pembelajaran Kooperatif

Secara sederhana kata kooperatif berarti mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Jadi, pembelajaran kooperatif dapat diartikan belajar bersama-sama, saling membantu antara satu dengan yang lain dalam belajar dan memastikan bahwa setiap orang dalam kelompok mencapai tujuan atau tugas yang telah ditentukan sebelumnya. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa pembelajaran kooperatif menyangkut teknik pengelompokan yang didalamnya siswa bekerja terarah pada tujuan belajar bersama dalam kelompok kecil yang umumnya terdiri dari 4 – 6  orang.

Pembelajaran Matematika Dengan Model Pembelajaran Kooperatif  Tipe KBS Pada Materi SPLTV

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe KBS ini merupakan Pembelajaran kooperatif yang mengutamakan adanya kerjasama antar siswa dalam kelompok untuk mencapai tujuan pembelajaran. Para siswa dibagi ke dalam kelompok – kelompok  kecil dan diarahkan untuk mempelajari materi pelajaran yang telah ditentukan yaitu materi  SPLTV dalam bentuk Lembar Kerja Siswa (LKS). Tujuan dibentuknya kelompok kooperatif adalah untuk memberikan kesempatan kepada siswa agar dapat terlibat secara aktif dalam proses berpikir dan dalam kegiatan-kegiatan belajar. Dalam hal ini sebagian besar aktivitas pembelajaran berpusat pada siswa, yakni mempelajari materi SPLTV  serta berdiskusi untuk memecahkan suatu masalah. Sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dan mediator dan memberikan langkah-langkah pembelajaran kooperatif tipe KBS. 

Sebelum pelaksanaan pembelajaran, Guru terlebih dahulu membuat rencana pembelajaran sebagai persiapan mengajar dan mengelompokan siswa secara heterogen dalam kelompok-kelompok kecil. Dalam membentuk kelompok jumlah siswa dalam kelas dibagi menjadi 5 kelompok dengan masing-msaing kelompok terdiri dari 4 orang  siswa. Ini sesuai dengan pendapat Slavin (2008:286), yaitu ukuran kelompok yang sangat ideal adalah 4-5 orang.  Kelompok dengan 4 – 5 orang anggota akan lebih mudah melakukan koordinasi dalam menyatukan ide-ide dan berdiskusi. Masing-masing kelompok diklasifikasikan dengan siswa berkemampuan tinggi, siswa berkemampuan sedang dan siswa berkemampuan rendah.

Pembentukan kelompok-kelompok kecil yang heterogen dimaksudkan untuk membantu siswa dalam memperoleh pemahaman konsep melalui bantuan teman kelompoknya . Interaksi siswa dalam kelompok dapat meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu konsep. Anggota kelompok yang kurang mampu dapat bertanya kepada anggota kelompok yang lebih mampu mengenai hal-hal belum dipahami. Sedangkan siswa yang lebih mampu akan bertambah pemahamannya melalui proses menjelaskan kepada  anggota kelompok yang lain atau kepada kelompok lain. Hal ini sesuai dengan pendapat Arends (Asma, 2006:26) bahwa belajar kelompok memberi keuntungan baik kepada siswa kelompok  bawah maupun siswa kelompok atas yang bekerja bersama menyelesaikan  tugas-tugas akademik.

Kegiatan pembelajaran dilakukan sesuai dengan tahapan dalam pembelajaran kooperatif tipe KBS yaitu tahap awal, tahap inti dan tahap akhir dengan langkah-langkah pembelajarannya yaitu: Pendahuluan : Guru melakukan apersepsi ; Guru menjelaskan tentang model pembelajaran KBS ; Guru menyampaikan tujuan pembelajaran ;  Guru memberikan motivasi. 

Kegiatan inti  Tahap pertama Penomoran: Guru membagi siswa dalam 5 kelompok yang beranggotakan 4 orang dan kepada  setiap anggota diberi nomor  1 – 4  ;  Siswa bergabung dengan anggota kelompoknya masing – masing . Tahap kedua : Mengajukan pertanyaan: Guru mengajukan pertanyaan berupa tugas untuk   mengerjakan soal-soal di LKS. Tahap ketiga : Berpikir bersama: Siswa berpikir bersama dan menyatukan  pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan dalam LKS tersebut dan  memastikan setiap anggota dalam kelompoknya mengetahui jawaban tersebut . Tahap keempat :  Guru memanggil siswa dengan nomor tertentu,  kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya  dan mencoba untuk menjawab pertanyaan atau mempresentasikan  hasil diskusi kelompoknya untuk seluruh kelas. Kelompok lain  diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat dan bertanya terhadap hasil  diskusi kelompok tersebut; Guru mengamati hasil yang diperoleh masing-masing kelompok  dan memberikan semangat bagi kelompok yang belum berhasil  dengan baik.  Guru memberikan soal latihan sebagai pemantapan terhadap hasil  dari pengerjaan LKS.

Penutup ; Siswa bersama guru menyimpulkan materi yang telah diajarkan;  Guru memberikan tugas rumah ; Guru mengingatkan siswa untuk mempelajari kembali materi yang  telah diajarkan dan  guru meninformasikan materi yang akan dipelajari pada pertemuan berikutnya. 

Berdasarkan uraian pada hasil dan pembahasan, dapat diperoleh kesimpulan bahwa di SMAN 2 Macang Pacar, mengalami kejenuhan tingkat rendah tidak lebih baik daripada belajar siswa yang mengalami kejenuhan tingkat tinggi setelah menggunakan pembelajaran kooperatif model Kepala Bernomor Struktur (KBS).  

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis  menyarankan hal – hal  sebagai berikut: 

Pertama Siswa perlu  dilibatkan secara aktif dalam proses pembelajaran  untuk   mengatasi kejenuhan belajar matematika. Kedua Perlu adanya pembentukan kelompok yang heterogen yaitu dengan melibatkan siswa yang berkemampuan tinggi, sedang dan rendah. Kelompok ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk saling mengajar dan saling mendukung dan dapat meningkatkan relasi antara siswa serta mempermudahkan guru dalam pengelolaan kelas. 

Ketiga Model pembelajaran Kepala Bernomor Struktur (KBS) perlu dilaksanakan oleh guru matematika  di SMA Negeri 1  Pacar  pada materi SPLTV.