Oleh: Adelheid Ratnasari
***
Yang paling menyakiti itu bukan orang lain melainkan mereka yang paling dekat,Dan sejuta luka yang mereka telah berikan itu membekas tapi, bagaimana kamu tumbuh dengan balutan luka itu.
Cuaca berganti seiring berjalannya waktu. Awan yang semula cerah seketika menjadi mendung, rintik demi rintik hujan mulai membasahi bumi.
Aku masih termenung di jendela kamar menyaksikan rintik rintik itu jatuh
Dengan isi kepala yang begitu berisik.
Namaku Dara, usiaku 17 tahun aku anak tunggal aku lahir dari ayah dan ibu yang semua keinginanku dituruti, bisa di bilang berkecukupan.
Kesepian bukan lagi hal asing bagiku, setiap hari aku merasakannya.
Dari kecil aku hidup dengan rasa kesepian. Kedua orangtua ku selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.aku selalu di titipkan ke nenekku hidupku se sepi itu,
Berjalannya waktu begitu cepat aku terus tumbuh dan usia 14 tahun aku duduk dibangku kelas 2 SMP.
Ayahku membawa ku jauh dari nenekku , aku sedih karena harus jauh dengan nenekku
Jauh dengan teman teman yang lain dan ekspetasi ku akan hidup dengan kasih sayang yang cukup tapi, ternyata dugaanku salah.
Mereka menyepelekan kasih sayang mereka seolah-olah sibuk dengan dunia sendiri, Aku selalu di tinggal di rumah.
Suatu malam aku duduk di depan meja belajar mempersiapkan ujian bulan depan
Dan ayah memanggilku ke ruang tamu, aku bergegas berdiri meninggalkan meja belajar ku.
“Dara.. Sini duduk dulu” Kata Ayahku dengan tersenyum manis
“Kenapa ayah? ” Tanyaku dengan ekspresi penasaran, karena tumben sekali ayah mengajak ku mengobrol bersama.
“Ayah harap ujian semester nanti nilaimu tetap bagus seperti semester kemarin” Kata ayahku
” Iyaa ayah, aku akan berusaha” Jawabku dengan tersenyum
“Pertahankan prestasi mu nak” Ucap ayah dengan wajah penuh keyakinan
Aku berdiri dan berjalan melangkah ke kamar
Sampai di kamar aku termenung dengan keyakinan ayah tadi yang begitu yakin bahwa aku akan lebih berprestasi dan bertahan dengan rangking ku.
Aku selalu dituntut untuk selalu sempurna tanpa mereka sadari peran mereka tidak ada untuk mendukung pendidikan ku.
Hari ujian itu tiba, aku bangun pagi di suguhkan secangkir teh hangat dari mamaku
Untuk menyemangati hari pertama ujian ku
Menggendong tasku dan berangkat ke sekolah.
Satu minggu lewat ujian ku selesai aku tidak yakin dengan nilaiku. Dan benar saja ayahku baru saja kembali dari sekolah untuk mengambil raport ku.
Aku yang melihatnya dengan wajah penuh amarah
Brak… Bunyi raport ku yang di lempar ke lantai
“Dara.. Sini” Panggil ayah yang tampak amarah
” Iyaa ayah” Jawab ku dengan bergegas jalan menuju ke ruang tamu
“Kenapa ayah? ” Tanyaku dengan nada ketakutan
“Kenapa sampai merah begini nilai rapor mu? “
dengan nada kasar ayah berjalan mengambil se ikat sapu lidi dan memukul ku.
“Ampun ayah” aku menangis sejadi jadinya ketika sapu itu menghampiri tubuhku
Tapi ayah tidak menghiraukan ku.
“Sudahh.. Kasian anakmu!! ” Teriak ibuku dengan berusaha menghentikan ayahku
Tiga kali se ikat sapu lidi itu mengenai tubuh ku
Aku berlari ke kamar
Aku menangis dengan tangan dan punggung ku yang merah.
Ibu menghampiri memberikan pelukan hangat dan berusaha menenangkan ku.
Hari demi hari berlalu seiring berjalan waktu
aku memiliki trauma terhadap lingkungan sekitar ku, membuat ku tidak selalu bergaul dengan teman sebayaku.
Orangtua ku juga selalu bertengkar bahkan itu di depan mataku,seakan dunia ku hancur saat surat cerai melayang di hadapan ibuku.
Aku tidak pernah memimpikan dunia ku berjalan seperti ini dengan episode yang tak ingin ku injak.
Aku selalu menangis dan berharap segera meninggalkan kota ini aku selalu hidup dalam rasa takut dan kesepian.
Di suatu hari dimana aku membuat mama tersenyum bahagia melihat aku masuk anak berprestasi di sekolah ku. Mama dengan tatapan haru itu seakan membuat hatiku tersentuh, aku sadar bahwa apapun yang aku lewati aku tidak sendiri karena mama masih menjadi sayapku.
Aku selalu berjalan diatas keraguan ku dan selalu melihat sisi dimana aku terpuruk, karena aku memegang prinsip “kita jangan larut dalam situasi sulit, tapi lihat bagaimana kita bertahan dalam situasi itu dan sampai tujuan kita”.
Dari hari bulan dan tahun aku lewati tak terasa aku sudah sampai episode yang aku mimpiku
Ya.. Aku telah lulus SMP dan akan melangkah jauh dari mereka.
Bahkan waktu berlalu dengan cepat rasanya kembali merindukan suasana itu, tapi dalam benak ku tersimpan luka tersendiri.
Sore hari sembari melamun dengan menikmati secangkir kopi
Kring… Dering ponselku
Aku bergegas berdiri dan menjawab telepon itu
Ternyata itu dari mamaku
“Hallo nak”sapa mamaku di telpon itu
” Hallo ma, mama sehat? ” Tanyaku
“Iya nak mama selalu sehat”
“Syukurlah ma”
“Sayang mama Minta maaf belum bisa jadi yang terbaik untuk mu” nada mama yang terdengar menangis
“Kenapa ma? ” Tanyaku kebingungan dengan ucapan mama
“Mama akan menikah lagi nak, bagaimana dengan mu? ” Jelas mamaku
Tubuhku lemah seketika mendengar itu rasanya seperti ditusuk realita yang tak ingin ku dengar
“Tapi..Ma kenapa secepat itu? ” Tanyaku
“Ini keputusan mama nak, mama kesepian mama butuh pendamping hidup”
Aku seakan tergampar oleh ucapan yang sekaan telah melupakan ayah dan kembali menata hidup baru
Yang pasti akan sibuk dengan keluarga barunya.
“Nak bagaimana apa kamu keberatan? ” Tanya mama
“Apapun yang buat mama bahagia silahkan ma aku senang lihat mama bahagia lagi” Ucap ku
Dengan menahan tangis ku
Aku menangis tersedu-sedu dan mematikan telpon itu.
Aku rapuh tertampar oleh realita yang tidak ingin aku injak, rasanya kehilangan separuh dari jiwa untuk realita yang tak pernah aku bayangkan.
Apakah ini adil Tuhan? Hatiku bertanya
Atas semua yang telah aku lalui dan kembali rapuh, tapi apa boleh buat skenario kita telah disusun dengan seindah mungkin.
Kini anak yang sering di sebut anak manja ini telah rapuh dan tenggelam dengan ombak yang deras membawa seribu trauma.
Dan semua menata jalan sendiri dan berdiri di kaki sendiri
Bahkan sederas apapun ombak itu kita masih kuat untuk berenang dan sampai di daratan yang jauh, sama seperti jalan hidup sebanyak apapun masalah, kita tidak bisa menghindar tapi bagaimana kamu memiliki keberanian menghadapi itu dan harus membalut lukamu sendiri.

Rolax Fellan
November 25, 2021 at 09:00 amIt is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using.
ReplyDaile Cane
November 25, 2021 at 09:00 amIt is a long established fact that a reader will be distracted by the readable content of a page when looking at its layout. The point of using.
Reply