Penulis:
Bonefasius Yulianus Du, S.Pd.
Guru Mata Pelajaran Sejarah SMA Negeri 1 Pacar
Dalam Permendikbud Nomor 24 Tahun 2016 tentang Kompetensi Dasar dan Kompetensi inti Kurikulum 2013 ditekankan bahwa pelajaran Sejarah Indonesia merupakan salah satu bidang ilmu yang bertujuan untuk menanamkan dan mengembangkan jiwa nasionalisme dan patriotisme dalam diri peserta didik. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai jasa para pendahulu dan Jangan sekali-kali melupakan sejarah adalah pernyataan tegas dari Bapak Pendiri Bangsa Ir. Soekarno, yang mau menekankan bahwa Sejarah adalah tonggak perjalanan suatu bangsa ke depan. Sejarah mau mengajarkan kita bagaimana menjadikan masa lalu sebagai dasar untuk hidup masa kini, dasar untuk perencanaan hidup di masa akan datang yang dalam ilmu Sejarah selalu dikenal dengan kalimat Magistra Vitae Historia yang berarti Sejarah Adalah guru kehidupan.
Tujuan pokok dari suatu proses pembelajaran Sejarah adalah untuk memberikan dan atau meningkatkan pemahaman siswa terhadap suatu ilmu pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diajarkan mengenai masa lalu dengan segala kompleksitas materinya. Keterserapan siswa terhadap suatu materi ajar dibuktikan perolehan hasil belajar siswa. Sebagai pelajaran wajib yang harus dipelajari oleh semua peserta didik yang belum tentu berminat dengan pelajaran sejarah, hal ini diangkat agar guru mampu membuat peserta didik dapat mengarungi garis waktu mundur ke masa lampau saat terjadinya peristiwa yang melandasi terbentuknya peradaban yang melatar belakangi kondisi sosial budaya dan warisan sejarah.
Pelajaran Sejarah merupakan sebuah ilmu pengetahuan yang berbicara tentang berbagai peristiwa yang terjadi di masa lampau. Objek kejadian masa lampau kadang menimbulkan persoalan bagi peserta didik yang lahir di zaman kini. Hal ini yang menyebabkan belajar Sejarah menjadi pelajaran yang membosankan. Di sisi lain ada anggapan bahwa belajar Sejarah mengandalkan kekuatan menghafal, dan hal ini menyebabkan pelajaran ini kurang diminat oleh siswa di sekolah. Padahal pelajaran sejarah adalah Pelajaran hidup sebab ia membicarakan kejadian masa lampau yang mempengaruhi Gerak zaman masa kini dan masa depan.
Pelajaran sejarah juga menjadi problem besar bagi peserta didik khususnya dikawasan Timur Indonesia, dikarenakan hampir semua muatan kurikulum pelajaran sejarah bersifat Jawa Centris. Hal ini terlihat dari jenis materi yang hadir dalam buku kurikulum Pendidikan Indonesia. Padahal pembelajaran yang efektif mesti sifatnya kontekstual, dimana materi yang tertuang dalam buku sesuai dengan konteks riil peserta didik. Ini berarti materi pembelajaran yang tertuang dalam buku Sejarah lebih mempertimbangkan sumber belajar lokal yang berada di sekitar peserta didik. Persoalan ini menggugah penulis untuk membawa Pelajaran Sejarah sesuai konteks dalam membedah materi tentang pola hunian Masyarakat prasejarah indonesia dengan membandingkannya pola hunian Masyarakat prasejarah disekitar peserta didik. Alasan ini menyentuh penulis untuk mengantar peserta didik mengenal situs Sejarah lokal yang berada di sekitar lingkungan peserta didik. Situs Sejarah yang dimaksud Adalah situs Sejarah Liang Bua terletak di Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Inilah alasannya sehingga tulisan ini membedah menggali situs Sejarah Liang Bua dengan melakukan observasi lapangan pada kelas X SMA Negeri 1 Pacar dalam mempelajari materi pola hunian Masyarakat prasejarah Indonesia.
Liang Bua merupakan salah satu situs Sejarah yang ada di Desa Liang Bua, Kecamatan Rahong Utara, Kabupaten Manggarai Provinsi Nusa Tenggara Timur. Liang Bua Adalah sebuah Gua tempat ditemukannya fosil manusia purba jenis Homo yaitu Homo Floresiensis yang merupakan manusia asli Manggarai. Selain sebagai situs Sejarah lokal, Liang Bua juga merupakan sebuah Objek wisata Sejarah setelah ditemukan fosil manusia purba Manggarai oleh arkeolog Australia professor Mike Morwood. Di Liang Bua kita menemukan manusia purba Homo Floresiensis dan fosilnya dipajangkan di Museum yang ada di Liang Bua. Cagar Wisata Sejarah Liang Bua oleh Balai Pelestarian Budaya Nasional sudah diakui sebagai salah satu sumber Sejarah perkembangan bangsa Indonesia dan dipakai juga sebagai sumber pengembangan ilmu Pengetahuan Sejarah nasional ( UU Nomor 10 tahun 2010) . Situs sejarah Liang Bua sudah dikunjungi oleh semua Lembaga ilmu pengetahuan di seluruh dunia dan berbagai Lembaga Pendidikan.
Sebagai seorang guru Sejarah penulis mengajak siswa untuk mengenal pola hunian masyarakat prasejarah Indonesia yang ada di sekitar lingkungan peserta didik melalui pengenalan manusia purba Homo Florensiensis. Penulis mengajak peserta didik untuk melakukan studi lapangan dalam pembelajaran Sejarah.
Studi lapangan merupakan salah satu proses pembelajaran yang efektif dalam memahami materi Pelajaran. Melalui studi lapangan peserta didik dapat dengan cepat memahami suatu materi pelajaran sebab mereka melihat dan mengalami secara langsung di lapangan. Salah satu model pembelajaran yang cocok dalam studi lapangan ini adalah model pembelajaran Discovery Based Learning. Bruner dalam Teguh Triwiyanto (2023, hal. 57) menjelaskan bahwa model Pembelajaran Discovery Based Learning merupakan model belajar yang menempatkan peserta didik sebagai pembelajar aktif dalam membangun pengetahuan yang diharapkan. Bruner menekankan bahwa belajar harus sambil melakukan, dalam artian bahwa peserta didik harus berperan aktif dalam peoses pembelajaran. Peserta didik harus merasakan langsung dan mengamati apa yang dipelajari diluar ruangan kelas.
Teguh Triwiyanto mengutip Ashadi dan Prayitno menyatakan bahwa Discovery Based Learning memiliki beberapa keunggulan seperti Ilmu yang diperoleh bertahan lama dan mudah diingat, Hasil dari Discovery Based Learning memiliki efek transfer ilmu yang lebih baik karena belajar sambil melihat langsung, Pembelajaran penemuan membangkitkan rasa keingintahuan peserta didik dan memotivasi untuk terus belajar, Discovery Based Learning dapat mengembangkan kemampuan peserta didik untuk mengamati, mengklasifikasikan, berhipotesis, menjelaskan, mengukur dan menyimpulkan.
Discovery Based Learning merupakan metode yang cocok untuk melakukan studi lapangan. Alasan ini memotivasi penulis untuk mendesain pola pembelajaran berbasis studi lapangan dalam mengenal pola hunian Masyarakat prasejarah dalam Pelajaran Sejarah. Tempat yang dipilih untuk melakukan studi lapangan ini dalam pembelajaran Sejarah adalah situs Sejarah Liang Bua. Dalam proses pelaksanaan pembelajarannya, penulis menerapkan beberapa Langkah.
Pertama, Menciptakan stimulus. Pada tahap ini peserta didik diberikan rangsangan atau rasa ingin tahu tentang suatu masalah dalam pembelajaran tentang Pola Hunian manusia Purba Indonesia. Penulis meransang siswa dengan mengenalkan situs Sejarah Liang Bua yang ada di Manggarai. Setelah situs Liang Bua dikenalkan, peserta didik memiliki rasa ingin tahu untuk melihat secara langsung di dalam kaca pada museum manusia purba Homo Florensiensis tersebut. Atas alasan ini sehingga penulis bersama siswa bersepakat untuk mengunjungi situs tersebut dalam pembelajaran pada tanggal 20 Juni 2026. Kemudian penulis berdialog dengan pihak pengelola Liang Bua supaya menyiapkan tempat yang baik dalam proses pembelajaran di Liang Bua sekaligus kesepakatan soal pelaksanaan pembelajaran Sejarah di tempat tersebut.
Kedua, Menyiapkan beberapa atribut yang digunakan dalam studi deskripsi lapangan. Pada fase ini guru dan peserta didik bersama-sama menyiapkan dan Menyusun daftar pertanyaan yang disesuaikan dengan materi pembelajaran yang akan dipakai, saat melalukan observasi dan penggalian informasi pada naras umber di situs Sejarah Liang Bua.
Ketiga, Mengumpulkan data. Di tahap ini guru mengajak peserta didik untuk terlibat aktif dalam bereksplorasi dilokasi Liang Bua dengan mengumpulkan informasi yang relevan dengan materi pelajaran dan dilakukan dengan cara mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber dan uji coba pustaka.
Keempat, Mengolah data. Di tahap ini guru mendampingi peserta didik memeriksa data secara cermat untuk membuktikan kebenaran dari data yang diperoleh di lapangan yang disesuaikan dengan materi dalam buku pelajaran. Apakah terdapat kesesuaian antara materi yang dipelajari tentang Pola Hunia Manusia Purba dengan situasi yang dilihat langsung di lapangan.
Kelima, Menarik Kesimpulan dan membuat laporan di sini guru mendampingi peserta didik dalam membuat laporan hasil pengamatan yang pada akhirnya menarik suatu kesimpulan yang kemudian akan dijadikan acuan bahwa ada keterkaitan dengan materi yang diperoleh.
Studi lapangan merupakan salah satu metode pembelajaran yang mesti diterapkan dalam pembelajaran sejarah. Alasannya bahwa, setelah menerapkan proses pembelajaran dengan studi lapangan dalam pembelajaran Sejarah dengan menerapkan Langkah-langkah sebagaimana yang diterapkan di atas menemukan hasil yakni;
Pertama, peserta didik lebih memahami materi tentang pola hunian Masyarakat prasejarah Indonesia. Saat melakukan studi lapangan di Liang Bua peserta didik lebih memahami manusia prasejarah dengan melihat langsung dan mengamati fosil manusia Homo Florensiensis yang ada di Liang Bua. Selama kegiatan pembelajaran studi lapangan berlangsung terlihat peserta didik sangat antusias untuk mengamati segala sesuatu yang terdapat di dalam gua dan museum. Selama wawancara dengan nara sumber peserta didik dengan teliti dan detail mencari tahu semua yang berkaitan dengan Manusia Purba Homo Floresiensis.
Kedua, peserta didik bisa membuat laporan terkait materi pola hunian Masyarakat prasejarah Indonesia. Hal ini terlihat dari pengerjaan tugas yang mereka kumpulkan. Tugas yang mereka kumpulkan merupakan hasil kerja bertitik tolak pada hasil wawancara saat melalkukan pembelajaran di objek wisata Sejarah Liang Bua. Pada saat pengamatan peserta didik diminta untuk mengumpulkan data dan wawancara di lapangan yang kemudian datanya diolah untuk menjadi sebuah laporan. Setelah dilaksanakan kegiatan studi lapangan terlihat antusias peserta didik sangat tinggi, Ketika mereka mulai bereksplorasi, mengumpulkan imformasi dan membuat laporan.
Oleh karena itu, studi lapangan dalam memahami materi pola hunian Masyarakat prasejarah Indonesia dalam Pelajaran Sejarah lebih efektif untuk peserta didik dalam proses pembelajaran. Metode pembelajaran seperti ini dapat membuat siswa cepat dalam memahami materi Sejarah sebab mereka secara langsung melihat dan mengamati fosil manusia Sejarah.
Sumber Pustaka:Triwiyanto, Teguh (2023). Teori Belajar dan Pembelajaran. Seri Kuliah Ringkas. Jakarta: Erlangga
Hironimus Deo/red
Kolom Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Tanggapan