Tulisan Kreatif (Autobiografi)
Karya : Vebronia Juniati
Pegiat Literasi SMA Negeri 1 Pacar
Salah satu wanita yang paling kukagumi hingga saat ini dan takkan pernah bisa kutakar sesosok mulianya adalah ibu kandungku sendiri. Dialah Yuliana Mite, sosok yang mungkin namanya tak setenar tokoh-tokoh besar, tetapi kesabarannya sungguh tiada bertepi. Ibu lahir di sebuah kampung kecil bernama Lando Rasang, Desa Manong, Kecamatan Pacar, Kabupaten Manggarai Barat, pada tanggal 14 Juli 1984. Beliau merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, sekaligus satu-satunya anak perempuan di keluarganya.
Ibu adalah sosok wanita yang paling hebat di mataku. Setiap kali mendengar kisah masa kecilnya, hatiku tersentuh. Beliau tumbuh di bawah naungan lampu pelita, menikmati hari-hari sederhana di bawah terik dan rindangnya alam desa. Namun, langkah pendidikannya harus terhenti di kelas 4 SD. Bukan karena tak mau belajar, melainkan karena keadaan, tidak ada lagi biaya untuk menyambung sekolah. Ibu terpaksa merelakan mimpinya demi membantu orang tua, mengganti buku pelajaran dengan umbi dan jagung untuk bertahan hidup.
Meski sekolahnya terhenti, semangat belajar di dada Ibu tidak pernah padam. Di tengah keterbatasan, beliau belajar membaca, menulis, dan berhitung secara mandiri. Dari jemari dan ketulusan beliaulah aku mengenal huruf dan angka. Sebelum dunia luar mengajarkanku tentang kehidupan, Ibu telah lebih dulu menjadi guru pertamaku.
Ibu sering bercerita tentang betapa berbedanya zaman dahulu dan sekarang. Dahulu, fasilitas begitu terbatas, tanpa ponsel pintar, tanpa teknologi canggih, dan jarak harus ditempuh dengan berjalan kaki tanpa alas. Namun, di tengah semua kesederhanaan itu, rasa syukur Ibu tak pernah berkurang sedikit pun. Bagi Ibu, keberhasilan anak-anaknya adalah harta yang paling berharga.
Dari perjalanan hidup Ibu, aku belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari seberapa tinggi gelar atau harta yang dimilikinya, melainkan dari ketulusan hati dan keteguhan cintanya. Terima kasih, Ibu, telah menjadi pelita yang tak pernah padam dalam hidupku.
Deo Hironimus/red
Kolom Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Tanggapan