Tangan Kasar, Cinta Yang tak Pernah Pudar
Tulisan Kreatif (Autobiografi)
Biografi Mama Rovija Amis
Pengarang: Melania Arta Jeril
Kelas: XII B
Ada satu nama yang menjadi belahan jiwaku. Nama yang sederhana, mungkin tidak begitu dikenal oleh dunia, tetapi bagi kami, anak-anaknya, ia adalah sosok yang begitu berarti. Namanya Mama Rovina Amis. Ia lahir pada 2 Agustus 1979.
Mama mungkin tidak pernah menceritakan kisah hidupnya dengan panjang lebar. Namun, bagi kami anak-anaknya, ia adalah pohon kehidupan yang selalu berusaha tetap tumbuh dan mekar di berbagai musim.
Ia adalah perempuan yang setia dengan tangan-tangan kasar yang selalu akrab dengan aroma tanah basah. Baginya, hari selalu dimulai sebelum fajar menyingsing, ketika dunia masih terlelap dalam tidur. Ia telah bersiap dengan segala keperluannya untuk pergi bekerja. Tak lupa, ia meninggalkan hangatnya kopi di atas meja bagi keluarga kecilnya.
Setiap langkah kakinya membawa harapan besar untuk keluarganya.
Tangan Mama mungkin tidak halus. Kulitnya terbakar matahari, jemarinya kasar karena setiap hari bergelut dengan lumpur, tanah, dan tanaman. Namun, di balik tangan yang kasar dan retak itu, lahirlah kasih sayang yang begitu lembut.
Tangan itu pula yang mengusap air mata anak-anaknya ketika bersedih. Tangan yang sama bekerja tanpa mengenal lelah demi menghadirkan hasil dari jerih payahnya.
Menjadi petani bukanlah profesi yang dahulu diimpikannya. Ia sebenarnya bercita-cita menjadi seorang penjahit terkenal. Namun, keadaan ekonomi tidak mendukungnya untuk mengejar impian tersebut. Ia akhirnya memilih menjadi petani, sebuah pekerjaan yang mungkin sederhana di mata sebagian orang, tetapi membutuhkan ketekunan dan kekuatan yang luar biasa.
Ketika kekeringan melanda dan hama merusak tanaman yang telah dirawat berbulan-bulan, Mama tidak menyerah. Sekalipun hasil panen tidak selalu sesuai harapan, senyum tetap ia hadirkan di wajahnya untuk menyembunyikan kekecewaan.
Bagi Mama, kegagalan dalam bertani bukanlah alasan untuk berhenti melangkah. Setiap jemari yang bekerja dan setiap benih padi yang ditanam bukan sekadar sumber makanan, tetapi juga lambang masa depan bagi anak-anaknya. Ia selalu bermimpi agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik daripada dirinya.
Namun, perjalanan hidup Mama tidak selamanya mudah.
Pada tahun 2018, ia mulai mengalami sakit yang kemudian membuatnya harus berulang kali menjalani perawatan. Rumah dan ladang yang dahulu menjadi tempatnya menjalani kehidupan, perlahan berubah menjadi saksi perjuangannya melawan sakit.
Pada tahun 2019, ia menjalani operasi. Saat itu, kecemasan memenuhi hati keluarga. Dunia seakan berhenti sejenak ketika kami melihat Mama harus berjuang menghadapi sakitnya.
Hingga tahun 2020, penglihatannya semakin terganggu. Sementara kami masih berada di bangku sekolah, Mama tetap berusaha bertahan. Saat itu, banyak impian yang sebelumnya dipenuhi senyuman mulai berubah menjadi tangisan. Hari-hari dilalui dengan kesunyian, tetapi rumah sakit tetap menjadi bagian dari perjuangannya.
Kemudian, pada tahun 2021, semesta seakan memiliki kehendak lain.
Mama pergi untuk selamanya.
Ia tertidur lelap, meninggalkan dunia yang selama ini menjadi tempatnya berjuang. Tubuhnya terbujur dalam balutan kain. Sosok yang selama bertahun-tahun merawat keluarga, mengolah tanah, menanam benih, dan membesarkan anak-anaknya kini telah kembali kepada Sang Pencipta.
Kepergian Mama meninggalkan kesedihan yang mendalam. Namun, kenangan tentangnya tidak pernah benar-benar pergi.
Tangan kasarnya masih terasa dalam setiap perjuangan kami. Senyumnya masih hidup dalam ingatan. Dan setiap butir nasi yang kami nikmati seolah mengingatkan kami pada keringat yang pernah ia jatuhkan di tanah.
Mama telah pergi, tetapi cintanya tidak pernah selesai.
Ia meninggalkan sebuah warisan yang tidak dapat dibeli dengan uang: keteguhan, pengorbanan, kerja keras, dan harapan.
Mama Amis mungkin bukan seseorang yang dikenal dunia. Namanya mungkin tidak tercatat dalam sejarah. Namun bagi kami, anak-anaknya, ia adalah perempuan hebat yang telah menulis sejarahnya sendiri—dengan tangan kasar, keringat, air mata, dan cinta yang tak pernah pudar.
Deo Hironimus /red
Kolom Tanggapan (0)
Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah yang pertama!
Tinggalkan Tanggapan