Kategori: prestasi

Cinta Tanpa Batas di Ujung Senja

Ukuran Teks:
Cinta Tanpa Batas di Ujung Senja

Tulisan Kreatif (Autobiografi)


Karya: Alfridus Matur 

Kelas XII B- Pegiat Literasi SMA Negeri 1 Pacar

​Ibu saya bernama Ibu Martina, seorang wanita sederhana yang lahir pada tanggal 7 April 1972. Terlahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara, beliau adalah sosok yang luar biasa penyayang, penuh kesabaran, dan selalu menempatkan keluarga di atas segalanya. Sejak kecil hingga saya tumbuh dewasa, Ibu adalah kompas moral kami. Beliau mengajarkan tentang pentingnya kebaikan hati, kesabaran, tutur kata yang sopan, serta bagaimana menghargai orang lain. Setiap kali saya dilanda kesulitan, keteguhan dan semangat dari Ibulah yang menjadi sumber kekuatan saya.

​Setelah melangkah ke jenjang kedewasaan, Ibu menemukan dambaan hatinya dan membangun keluarga yang sederhana namun penuh kehangatan. Bertahun-tahun mengarungi bahtera rumah tangga, puji Tuhan, beliau dikaruniai empat orang anak—dua anak perempuan dan dua anak laki-laki. Bagi kami, Ibu bukan sekadar orang tua yang melahirkan, melainkan benteng kasih sayang dan pelita yang tak pernah padam. Meski roda kehidupan kerap berputar di jalan yang sulit, Ibu selalu mengusahakan yang terbaik agar senyum tetap terukir di wajah anak-anaknya.

​Namun, badai kehidupan menghampiri pada tanggal 21 Mei 2021. Hari itu, Ibu mendadak jatuh sakit dengan gejala muntah-muntah dan sakit kepala yang amat hebat. Dengan cemas, kami membawanya ke rumah sakit. Bak disambar petir di siang bolong, hasil pemeriksaan medis menyatakan bahwa Ibu mengidap kanker otak. Dokter menyarankan agar Ibu segera dirujuk ke Bali untuk menjalani operasi.

​Hati kami hancur, terpecah antara harapan dan kenyataan. Keterbatasan biaya, kendala transportasi, serta kondisi yang serba terbatas membentengi jalan kami. Kami tidak mampu membawa Ibu beroperasi ke Bali. Akhirnya, pengobatan hanya bisa dilakukan seadanya di rumah. "Rumah Sakit" kami berpindah ke kamar tidur yang sederhana—tempat yang kemudian menjadi saksi bisu perjuangan Ibu melawan rasa sakitnya sehari-hari.

​Kala itu, saya baru saja duduk di kelas 9 SMP. Kakak perempuan pertama sudah berkeluarga dan tinggal jauh, sementara kakak perempuan kedua masih berjuang di bangku SMA. Adik bungsu kami, seorang laki-laki, masih berada di kelas 7 SMP. Melihat keadaan Ibu, saya dan adik menyingsingkan lengan baju. Sepulang sekolah, kami langsung berganti pakaian, memasak, menyuapi Ibu, dan telaten meminumkan obatnya. Hari-hari kami berganti rupa pagi, siang, hingga malam, seluruh perhatian kami tercurah untuk merawat Ibu tercinta.

​Ketika saya tamat dari SMP, sebuah persimpangan berat menghadang. Saya dihadapkan pada dua pilihan yang menyayat hati, melanjutkan sekolah ke jenjang SMA atau berhenti demi merawat Ibu sepenuhnya. Di sudut kamar tidur, saya merenung seorang diri. Air mata menetes tanpa bisa dibendung. "Jikalau aku melanjutkan sekolah, siapa yang akan membantu menjaga Ibu? Siapa yang akan mengangkat Ibu ke kamar mandi?" bisik batin saya. Pikiran saya hancur dan berpasrah.

​Dengan berat hati namun penuh kerelaan, saya memilih mengalah. Saya memutuskan berhenti sekolah. Saya tidak melanjutkan pendidikan bukan karena tidak mau belajar, melainkan karena Ibu jauh lebih membutuhkan dekapan dan perawatan anak-anaknya.

​Suatu hari, dengan mata yang berkaca-kaca, Ibu memanggil saya. Beliau memegang erat tangan saya seraya menangis sesenggukan. Dengan suara bergetar, Ibu berkata:

​"Maafkan Ibu ya, Nak... Karena Ibu, kamu jadi harus berhenti sekolah. Ibu titip doa, nanti kalau Ibu sudah sembuh, kamu sekolah lagi..."

​Kata-kata itu terpatri dalam didada saya. Saya termenung, lalu memeluk Ibu erat-erat sambil meratapi takdir. Namun, takdir berkata lain. Penyakit Ibu kian hari kian menggerogoti tubuhnya. Kami membawanya kembali ke rumah sakit. Di sana, wajah Ibu tampak begitu pucat dan beliau sudah tidak mampu lagi berkata-kata. Beliau hanya menatap kami satu per satu, meninggalkan titik-titik air mata terakhirnya di ujung mata.

​Hingga akhirnya, pada tanggal 14 Februari 2021 tepat pukul 04.00 pagi, Ibu menghembuskan napas terakhirnya dengan tenang. Tidak ada pesan terakhir yang sempat diucapkannya, hanya tatapan penuh kasih yang menjadi warisan abadi bagi kami.

​Kepergian Ibu adalah duka dan kehilangan terbesar dalam hidup saya dan keluarga. Walaupun Ibu kini telah berpulang dan tidak dapat menemani langkah saya secara langsung, seluruh kasih sayang, nasihat, dan kebaikan yang telah beliau tanamkan akan selalu saya ingat. Semua itu akan menjadi pedoman dan obor penerang bagi saya dalam mengarungi jalan kehidupan.


Deo Hironimus/red

Bagikan Ke:

Kolom Tanggapan (0)

Belum ada tanggapan untuk artikel ini. Jadilah yang pertama!

Tinggalkan Tanggapan